1

What Do You Do for A Living?

Habis blogwalking ke rumahnya temen-temen saya dan mendapati ngomongin kerjaan lagi ngetrend kayaknya :D

So, what do you do for a living?

For me, I would like to say ‘nothing’. Doesn’t mean that I’m jobless nor ‘gabut’.

Di atas kertas, kerjaan saya adalah software engineer.

Kata ‘engineer’ sendiri, ruang lingkupnya guedeee banget. Penambahan kata ‘software’ sebelum kata ‘engineer’ tetep aja ga terlalu ngaruh. Sebagian orang mengidentikan software engineer sebagai programmer atau coder atau semacemnya. Well, man, dunia ga selebar daun kelor, lo harus tau ada yang namanya validation engineer. Dan itu gw.

In this company, most of the new comers will be placed as validation engineer, mostly lho. You have to find the bug made by the developer. Nyari-nyari kesalahan orang, gw banget!

Si validator ini harus ngerti itu si produknya ngapain, expected behaviornya gimana, customer maunya gimana, dan sebagainya. Dari requirement yang ada, dirumuskanlah test case yang harus dijalanin, test environment dan test scenario yang cocok dan segala tetek bengek yang bener-bener butuh orang yang teliti and berkapasitas memory lebih besar dari orang lain.

Ya tinggal tes semua kemungkinan input dari user toh? Hahaha, sebelum saya jadi validator, saya juga mikir kayak gitu. Salah satu senior validator bilang ‘It will take 15 years to finish testing all the possibility for this product’. Berhubung rata-rata tiap 3 minggu sekali tim saya harus deliver satu product, rasanya cukup ga mungkin buat ngetest semua kemungkinan. So, supaya tetep waras, kudu pinter-pinter memilah2 mana yang harus ditest, mana yang ga perlu. After all, ini bukan riset akademis, ini kerjaan komersil di suatu perusahaan, so ngerjain banyak = nambah waktu = nambah cost = potong gaji *eh* :)

Dimana letak ‘rekayasa’nya? Ya di bagian ngerancang test case untuk mastiin si product itu sesuai sama requirement dan tetep ngejaga quality si product.

Menurut temen saya disini, jadi validator itu ga enak. Kalau nemu bug, disalah-salahin, ‘Ini kenapa bisa ketemu bugnya?’. Tapi kalau ga nemu bug, yang dipuji developernya/programmernya.

Walaupun saya ngeluh-ngeluh, tapi ya, selama ini, gw ga ngerasa ada yang salah dengan jadi validator. Kepikiran buat pindah kerja pun cuma sebatas candaan ga jelas, merespon temen-temen yang pada bilang mau resign. Sungguh. Cuma lama-lama, gw ngerasa kok lama-lama ga pake otak ya? Bukan berarti validator ga berotak, tapi kurang menantang gitu deh kk.

Usut punya usut, dalam suatu perbincangan heart to heart bersama para EL06 raja singa, diketahui bahwa semua juga merasa kayak gitu. Bahkan orang yg kerjanya ngedesign jaringan pun ngerasa kerjaannya kurang macho sebagai engineer.

Sebutlah anak ITB arogan, tapi emang naturenya begitu, karena kita lebih suka troubleshooting kali ya? Soalnya lebih menantang, bukan buat sok-sokan.

Overall, saya suka perusahaan ini, kerjaan ini. Tapi makin cinta sama perusahaan ini kalau disuruh troubleshooting atau bunuh-bunuh ‘kutu’ :p

Sekarang setidaknya, saya jadi lebih teliti dan cermat :D

Advertisement
This entry was published on 29 January 2012 at 12:38 am and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.